Ketua Umun PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, Indonesia memiliki keterbukaan lebih ketimbang negara-negara di Amerika dan Eropa soal menghargai kemajemukan agama. Di Tanah Air, penganut agama tak hanya menikmati kebebasan tapi juga penghargaan atas setiap hari besar keagamaannya, misalnya dengan penetapan hari libur nasional.
“Kita bisa lihat, di Amerika dan Eropa tidak ada itu yang namanya libur Idhul Fitri untuk umat Islam. Di Prancis, pemakaian jilbab juga dilarang,” Ujar Kiai Said
Padahal di Indonesia, tambahnya, umat Budha dan Konghuchu yang meski pengikutnya tak seberapa, tetap merasakan keleluasaan merayakan hari agungnya. Menurutnya, hal ini dikarenakan umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia sangat mengormati perbedaan.
Kiai Said menyebut sikap keberislaman ini sebagai karakter Islam Nusantara sebagaimana yang dimiliki NU. Ia menegaskan bahwa Islam Nusantara tak melihat Islam sebagai doktrin aqidah dan syariah semata, melainkan juga tentang akhlak dan peradaban.
Baca: Syair-Syair Simbah KH. Muhammad Munawwir
Kiai Said menyampaikan Islam tak boleh lepas dari tanah air dan kebudayaan setempat. Karena itu, nasionalisme dan menghargai kearifan lokal bagi NU penting untuk menciptakan suasana keberagamaan yang damai.
“Man laila lahul ardlun laisa lahut tarikh. Wa man laisa lahut tarikh laisa lahu dzakirah. Barangsiapa tak punya tanah air maka ia tak punya sejarah. Dan barangsiapa tidak memiliki sejarah maka dia tidak memiliki karakter,” ujar Kiai Said.
Menurut pandangannya, dalam konteks hidup bernegara, cinta Tanah Air harus menjadi prioritas melebihi kelompok termasuk Islam. Hal inilah, kata Kiai Said, yang tidak terdapat pada mayoritas Muslim di Timur Tengah sehingga dilanda konflik tak berkesudahan. “Islam saja tidak cukup, harus ada komitmen kebangsaan,” tuturnya.
Oleh: Tim Redaksi
Sumber: emka.web.id
Picture by matamaduranews.com