Pensiun Dini

Suatu ketika iblis galau dan ingin mengajukan pensiun dini sebagai penggoda manusia kepada Tuhan. Kemudian terjadilah percakapan antara Tuhan dengan iblis.


Iblis: “Tuhan, rasanya hamba sudah tidak betah lagi menggoda manusia, hamba minta pensiun dini”.


Tuhan: “Kenapa kau mengajukan pensiun wahai iblis, bukankah maumu untuk selamanya menggoda manusia?”


iblis: “Hamba minta ampun Tuhan, kelakuan manusia sekarang sudah melampaui batas bahkan melebihi hamba. Hamba khawatir justru hamba yang akan tergoda oleh manusia. Manusia nyabu, yang merasakan enak dia, tetapi yang disalahkan hamba. Manusia korupsi yang enak dia yang jadi kambing hitam hamba. manusia selingkuh atas kesadarannya, katanya digoda hamba. Dan yang paling pedih, setiap musim haji, hamba dilempari batu oleh berjuta-juta manusia, padahal yang melempari itu kawan-kawan hamba juga.”

Baca: Kabar Yang Selalu Dibawa Oleh Para Nabi

Hamba minta ampun Tuhan, hamba ikhlas dipensiun dini, dan profesi hamba sebagai penggoda manusia, biarkan diambil alih oleh manusia saja. Hamba sekali saja tidak mengikuti perintah Engkau Tuhan, dengan tidak sujud kepada Adam, Engkau menjadikanku sebagai penghuni neraka, lantas bagaimana dengan manusia yang tidak pernah mengikuti-Mu dengan meninggalkan shalat, lupa bersedekah, menyuburkan korupsi dan mengkhianatiku dengan melempar jumrah?

Oleh: Tim Redaksi

Picture by arabnews.com

Gitu Kok Ngaku Cinta al-Qur’an?

Bagi individu yang mengemban mandat dari Tuhan sebagai seorang hamba, tentu Kitab suci al-Qur’an menjadi prioritas paling utama dalam mengawal setiap tindak tanduk kita sebagai hamba.  Mengikuti dan mengamalkan al-Qur’an akan menjadikan kita terbimbing nafhul ilahiah (nilai nilai ilahiah), sebaliknya abai dan mengingkarinya akan membawa kita menuju jurang kebinasaaan. Bagi kita umat Islam yang sudah barang tentu terbebani taklif syariat. Membaca, memahami, dan mengamalkan merupakan suatu keharusan sekaligus bentuk manifestasi penghambaan kita pada Tuhan.

Zaman yang semakin tua ini memunculkan berbagai macam persoalan yang menjadi polemik khususnya bagi umat muslim saat ini. Kemajuan teknologi dan kemampuan intelektual justru menjadikan kita semakin lupa akan tujuan kita singgah di dunia ini. Al-Qur’an yang seharusnya mewarnai setiap gerak gerik kita, tereduksi dengan gadget yang menemani dan “memperdaya” kita setiap saat.  Nilai nilai al-Qur’an semakin termarjinalkan dari kehidupan ini, lebih lebih dengan perkembangan generasi milenial saat ini. Masa-masa yang seharusnya di isi dengan hal positif lagi lagi tergeser oleh peran gadget. Bahkan memberi sedikit waktu barang kali untuk mendaras al-Qur’an dalam sehari pun tak sempat. Jika di luar sana, orang saling menuntut hak dan lupa akan kewajiban, tentu kita harus introspeksi diri, sudahkah pantas kita menuntut hak kita pada orang lain. Tapi kewajiban diri kita akan diri kita sendiri justru abai. Sudahkah kita penuhi hak diri kita sendiri untuk membaca al-Qur’an dan mengamalkannya. Dalam satu hadist, Rasul berpesan pada kita semua agar memenuhi hak anggota tubuh kita, khususnya mata, bagaimana beliau menyuruh umatnya untuk membaca al-Qur’an sebagai kewajiban terhadap indera penglihatan kita sendiri. 

Baca: Opini Tentang Perempuan

Jika seperti ini yang terjadi pantaskah kita merasa menjadi hamba yang cinta al-Quran, masihkah kita merasa generasi Qurani. Kalaupun diukur, kecintaan kita hanya beberapa persen berbanding terbalik dengan kegandrungan kita pada gadget. Alih-alih mau mengamalkan al-Qur’an secara kaffah, membaca aja gak sempat.

Dalam prosesnya al-Qur’an turun dalam rentang waktu yang cukup lama, dua puluh tahun lebih al-Qur’an turun secara tadrijian kepada nabi. Proses inilai yang menengarai adanya satu hal penting bahwa al-Qur’an turun bukan hanya sekedar dibaca ataupun sebagai wacana belaka.

Al-Qur’an hadir bertahap membersamai peristiwa maupun problem yang terjadi pada saat itu, tentu tujuan Tuhan menghadirkannya agar hambanya juga memahami dan meng-internalisasikan pada setiap sendi kehidupan, tanpa terkecuali.

Dewasa ini semakin marak orang membicakan hal tentang al-Qur’an tapi semakin minim orang yang paham dan mengamalkan-nya. Acap kali kita dengar orang mudah sekali mengklaim dirinya paling benar, merasa paling faham akan makna al-Quran, paling totalitas dalam mengamalkan isi kandungan al-Qur’an. Sehingga tak jarang narasi saling menyalahkan, klaim sepihak penuh arogan kerap mewarnai perjalanan religiusitas negeri ini, yang tadinya baru mengenal Islam, baru hafal beberapa ayat sudah berani ngomong di depan publik. Bahkan yang lebih fatal, dia berani membenarkan interpretasinya, demi kepentingannya sendiri dengan legitimasi ayat al-Qur’an.  Seperti inikah pribadi yang cinta al-Quran. Kenapa yang justru mengaku paling Qur’ani justru tindak tanduknya jauh dari nilai nilai al-Qur’an.  Gitu kok ngaku cinta al-Qur’an?

Jika dulu para sahabat berlomba-lomba membaca dan memahami al-Qur’an, bahkan ada yang menghatamkan al-Qur’an dalam sekali salat. Bagaimana dengan kita sekarang? Jika dulu para sahabat tidak merendahkan dan mencerca orang lain, padahal mereka hafal al-Qur’an dan mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalamnya. Lantas bagaimana dengan kita sekarang?

Jika orang terbaik di antara kita ialah yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an maka dimana posisi kita sekarang, sudahkah kita melakukannya. Masihkah kita merasa terpaksa tiap kali membaca, belajar ataupun maenghafal al-Qur’an. Jika semuanya dilandasi cinta tentu tak akan ada beban sama sekali, karena cinta akan membuat Sahib-nya selalu merasa nyaman dan enggan berjauhan. Jika al-Qur’an telah menjadi “kekasih” kita, sudah barang tentu kita tak akan rela menduakannya, bahkan dengan gadget sekalipun. Jika rasa cemburu sering muncul ketika merasa terabaikan, begitulah kira-kira respon al-Qur’an ketika kita tak pernah “berhubungan” dengan-nya. 

Baca: Pro Kontra Lintas Mazhab Dalam Basmalah

Akan lebih fatal lagi jika prediksi yang telah terucap oleh Rasulullah 14 abad yang lalu bahwa nanti akan datang suatu masa dimana sangat marak orang membaca dan menghafal al-Qur’an tapi “tak melewati kerongkongan” maksudnya tak memberi bekas maupun nilai-nilai akhlakul karimah pada dirinya, justru terjadi pada kita. Bacaan dan banyaknya hafalan hanya sebatas terucap dari bibir. Tentu kita tak akan mau menjadi golongan ini

Coba kita berfikir sejenak. mungkin ada yang salah dengan diri kita. Segitu naifnya kita mengaku cinta al-Qur’an tapi kita alpa bahkan jauh dari esensi al-Qur’an sendiri. 

Oleh: Ibnu Hajar Al Qodiri (Nama Pena)

Santri Madrasah Huffadz 1 Al Munawwir

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Picture by vecteezy.com

Kabar Yang Selalu Dibawa Oleh Para Nabi

Matahari kita masih sama, bulan kita sama, bumi kita sama dan kita masih manusia yang sama. Mempunyai harapan, mempunyai mimpi, mempunyai rasa khawatir juga mempunyai rasa takut. Bagaimana kalau dunia ini berakhir? Belum berbenah diri, belum sempat berbakti kepada orang tua, bangsa dan negara?

Rasa khawatir dan takut itu menurut perasaan saya singgah di batin ini setelah ada informasi bahwa dunia akan berakhir. Kalau saja informasi ini tidak pernah ada, saya yakin, jangankan sampai mampir, muncul ke permukaan pun tidak. Terserah bagaimana tafsirnya, yang jelas tak akan ada asap sebelum ada baranya. Bara itu saya pahami sebagai berita akhir dunia yang dibawa oleh para utusan Tuhan. Dari sabda Nabi Nuh As sampai Nabi Muhammad Saw, dalam rentang waktu puluhan ribu tahun lebih dan sebatas tahu saya jumlah Nabi itu tidak terbatas dan lebih banyak daripada Rasul, bahwa jumlah Rasul itu 313 yang 25 diantaranya dikisahkan dalam al-Qur’an.

Masing-masing dikirimkan ke tempat dan pada zaman tertentu, masing-masing menyampaikan tugas risalah kepada umat manusia dan menu risalah yang tak pernah ketinggalan ialah menyampaikan perihal akan datangnya Hari Kiamat. Manusia yang sudah mati dihidupkan kembali untuk diinterogasi, disortir lalu dipilah dan dipilih sesuai amalnya. Jika Nabi diberi kewajiban untuk menyampaikan ajarannya, maka bisa diartikan bahwa kabar Kiamat sudah disampaikan sebanyak 313 kali oleh para Rasul. Ada manusia yang percaya, ada juga yang tak percaya. Yang percaya karena ketakutan dan mengharap perlindungan, yak tak percaya enyah dan membangun argumen bahwa hari itu tak akan datang, hanya dongeng belaka.

Baca: Pandangan Medis Tentang Air

Dari Nabi Nuh As, kabar itu tak ada faktanya, orang yang mati tetap mati. Ya, sepanjang zaman itu, yang sudah menjadi tanah tak akan pernah kembali raga dan nyawanya. Justru yang terjadi adalah setelah generasi kemarin musnah, generasi-generasi sekarang tumbuh juga akan musnah pula. Dan besok adalah giliran generasi besok. Banjir Nabi Nuh As, hujan batu, tanah dibalik pada kaum Nabi Luth, topan-dingin pada kaum ‘Ad dan Tsamud dan bencana-bencana alam super besar yang tak pernah membinasakan umat-umat terdahulu, itu bukan Kiamat, namun lebih kepada cara naturalis-dialektis Allah menggantikan suatu generasi dengan generasi berikutnya. Selalu begitu sampai detik ini, entah esok.

Sepanjang zaman itu kabar Kiamat tidak ada buktinya, sampai pada zaman Nabi Isa As, Tuhan menyatakan kemungkinan terjadinya lewat mukjizat Nabi Isa As. Bisa merubah tanah liat menjadi burung bernyawa juga bisa terbang, bisa menyembuhkan mata yang buta sejak lahir, bisa menormalkan kulit seseorang yang terjangkit sopak (penyakit kulit). Dan terakhir ini yang inti bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Secara akal-akalan jika ciptaan saja mampu menghidupkan orang yang sudah mati tentu pencipta lebih mampu, pastinya. Jikalau Nabi Isa As yang hanya ciptaan saja bisa, apalagi Tuhan yang bukan hanya Pencipta tapi juga Maha. “Kiamat itu soal kecil, sekejap mata atau bahkan lebih cepat lagi” kata-Nya dalam salah satu surah di al-Qur’an.

Manusia yang hidup di waktu itu dan menyaksikan bagaimana Nabi Isa As menghidupkan orang yang sudah mati mungkin langsung percaya, tetapi manusia yang lain yang tidak menyaksikan sendiri, yang hanya mendengar-dengar tidak percaya dan bertanya-tanya apakah cerita tentang Nabi Isa As itu ada faktanya? Atau jangan-jangan cuma cerita belaka? Sebab kabar tetaplah kabar hingga ada faktanya, maka hadirlah kisah 7 orang yang tidur dalam goa selama 300 tahun bersama seekor anjing. Kisah yang dipanggungkan sebagai bukti bahwa Tuhan mampu menghidupkan orang mati, tidur selama 300 tahun itu sama dengan mati. Lalu kemudian Tuhan membangunkan mereka dalam kondisi fisik yang utuh tidak kurang suatu apa pun, sungguh sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

“Itu ceritanya, mana buktinya? Mana faktanya?” kata nasib manusia yang haus akan bukti pun harus jelas, harus nyata, harus konkret, tidak boleh abstrak! Memang informasi yang sudah saya sampaikan diperoleh dari al-Qur’an, namun tetap merupakan kabar yang menuntut bukti, bukankah begitu? Hanya saja saya mengandaikan sebaliknya: bagaimana jika saya percaya sekali pun tidak ada bukti dan tidak ada faktanya? Apakah rasa percaya saya itu naif karena tidak berdasar? Bukankah ayat yang saya kutip pun masih bergantung kepada bagaimana saya memahaminya? Bukankah dari itu saya bisa salah paham?

Bukankah kesalahpahaman itu justru bisa mementahkan rasa percaya saya sendiri yang tidak berdasarkan bukti itu terhadap kabar diatas? Misalnya, ketika saya memahami kabar akan datangnya hari Kiamat sebagai cara Tuhan menakut-nakuti orang. Wah, ini sungguh konyol! Saya jelas saja tidak mau dianak-kecilkan oleh-Nya. Apa motivasi Dia menakut-nakuti saya? Hal inilah yang mungkin ditolak oleh Abu Jahal dan orang-orang yang sepaham.

Baca: Santri Dan Polisi

“Loh sudah puluhan tahun saya hidup tapi tidak ada Kiamat, sudah sejak dulu kabar itu tapi kenyataannya tidak ada. Nenek moyangku tetap di alam baka, sampai detik ini. Engkau jangan menakut-nakuti orang tua macam aku” kira-kira begitulah sanggah Abu Jahal kepada Nabi Muhammad Saw.

“Aku tidak punya kuasa atas Kiamat, semua sudah ada waktunya, setiap umat ada ajalnya. Mungkin sudah hampir tiba, kalian juga ada waktunya, tidak maju tidak mundur. Seujung rambut pun tidak, waktu tepatnya hanya Allah yang Maha Tahu. Aku kan cuman menyampaikan, cuman mengingatkan” jawab Nabi Muhammad Saw atas perintahnya.

1.400 tahun lebih sejak kabar itu dikabarkan oleh Nabi Muhammad Saw, seorang Nabi yang bukan hanya sebagai manusia paling dekat dengan Allah Swt tapi juga sebagai Tuan seluruh Rasul saja masih meyatakan ‘mungkin’ bukan ‘hari ini, tanggal sekian dan tahun sekian’.

Oleh: Tim Redaksi

Sumber: Buku Islam Musiman

Picture by pinterest.com

Pro Kontra Lintas Mazhab Dalam Basmalah

Ayat Ahkam:

بسم الله الرحمن الرحيم (١) الحمد لله رب العالمين (٢) الرحمن الرحيم (٣) ملك يوم الدين (٤) اياك نعبد واياك نستعين (٥) اهدنا الصراط المستقيم (٦) صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين (٧)

Surat ini kerap kali kita baca berulang-ulang, baik dalam shalat, tahlilan, atau bahkan saat kita merinding dan takut setan. Sehingga tak heran bila ia disebut dengan sab’u al-matsani, tujuh ayat yang dibaca berulang kali. Tafsiran dari surat ini pun kerap kali kita pelajari, baik melalui guru secara langsung, ataupun dalam sebuah podcast yang kita dengar. Karena demikian, maka saya tidak perlu menulis lagi tentang tafsir dari ayat ini.

Saya hanya hendak membuka sebuah diskusi lintas mazhab mengenai ayat pertama surat Al-Fatihah yang mungkin saja belum pembaca ketahui. Ayat tersebut adalah basmalah. Apa hukum yang dimunculkan dari ayat tersebut?

Sedikitnya, —yang saya ketahui— ada dua hukum yang dimunculkan dari ayat pertama surat Al-Fatihah ini, yang akan disajikan dalam bentuk pertanyaan berikut ini. Apakah basmalah termasuk bagian dari surat Al-Fatihah? Apa hukum membaca basmalah dalam salat?

Baca: Mbah Zainal: Tiga Tanda Orang Shaleh

Hukum Pertama

Kita mulai dengan pertanyaan pertama, apakah basmalah termasuk ayat Fatihah? Menurut mazhab Syafi’i, ia termasuk bagian dari surat Fatihah dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Pertama, hadits riwayat Ibnu Abbas yang mengungkapkan bahwa Rasulullah memulai bacaan dalam salat dengan basmalah.

Kedua, hadits riwayat Anas RA tatkala beliau ditanya tentang, apa yang dibaca Rasul dalam salat? Sahabat Anas lalu menjelaskan bahwa bacaan beliau panjang. Beliau kemudian membaca surat Al-Fatihah yang diawali dengan bacaan basmalah.

Dengan dua hadits diatas serta beberapa hadist yang lain mazhab Syafii berkesimpulan bahwa basmalah merupakan bagian dari surat Al-Fatihah.

Pendapat kedua disamapaikan oleh mazhab Maliki, yang menyatakan bahwa basmalah bukan bagian dari ayatnya Al-Fatihah, juga bukan bagian dari surat manapun dalam Al-Quran (mengecualikan ayat dalam surat An-Naml). Lalu apa fungsi basmalah dalam Al-Qur’an jika ia bukan termasuk sebuah ayat? Fungsinya adalah sebagai tabarruk (untuk mengharap barakah). Pandangan beliau ini tentunya dilandasi dengan beberapa argumen yang akan kita urai bersama berikut ini.

Pertama, hadits riwayat Aisyah yang berkomentar bahwa, Rasul memulai salat dengan takbir dan memulai bacaannya dengan hamdalah. Kedua, Hadis riwayat shahabat Anas yang termaktub dalam kitab shahihaini (Bukhari dan Muslim), “saya (Sahabat Anas) pernah melakukan salat dibelakang Rasul, Abi Bakar, Umar, dan Usman. Mereka semua memulai bacaan salat dengan hamdalah” dalam  riwayat Muslim “tidak membaca basmalah, baik diawal bacaan ataupun di akhir”. Dari dua hadits ini dan beberapa hadits lain, mazhab Maliki berpendapat bahwa basmalah bukanlah bagian dari ayatnya Fatihah sekaligus Al-Quran.

Pendapat ketiga diutarakan oleh mazhab Hanafi, yang menyatakan bahwa basmalah merupakan bagian ayat dari Al-Quran tetapi bukan bagian dari Al-Fatihah. Argumen yang melandasi pendapat beliau saya kira cukup unik.

Menurut beliau, penulisan basmalah dalam mushaf Al-Quran menunjukkan bahwa ia merupakan bagian dari Al-Quran tetapi sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah ayat dari salah satu surat dalam al-Quran, ditambah lagi hadits yang memberi indikator bahwa ia tidak perlu dibaca keras bersamaan dengan Fatihah saat salat menunjukkan bahwa ia bukan bagian dari Fatihah. Dengan argumen yang sedemikian rumit dan unik seperti tadi, beliau berkesimpulan bahwa, basmalah merupakan ayat Al-Quran (selain basmalah dalam surat An-Naml) yang diturunkan sebagai pembatas antara satu surat dengan surat yang lain. Pendapat mazhab Hanafi ini juga dikuatkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh banyak sahabat, “kami tidak bisa mengetahui selesainya sebuah surat kecuali setelah diturunkannya basmalah”.

Setelah selesai kita uraikan semua pendapat serta argumennya maka hendaknya kita membuat sebuah kesimpulan dan tarjih (pengunggulan). Dari ketiga pendapat di atas, agaknya yang paling moderat adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah. Sebab disaat Imam As-Syafii menyimpulkan bahwa basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah, dan Imam Malik menyatakan bahwa basmalah bukan bagian dari Al-Quran sama sekali, Imam Abu Hanifah justru memilih jalur yang aman dengan mengatakan bahwa ia memang bukan bagian dari Fatihah, namun ia tetap bagian dari Al-Quran.

Hukum Kedua

Setelah kita menyelesaikan masalah pertama, kini kita memasuki problem kedua. Apa hukum membaca basmalah dalam salat? Problem ini saya kira juga sering disentil dalam beberapa kalangan, jadi saya kira sangat penting untuk membahasnya supaya menambah wawasan kita agar bisa bersikap lebih bijak dalam  menghadapi perbedaan.

Para ahli Fikih mengalami perdebatan yang cukup sengit dalam satu masalah ini. Karena memang hadist dan dalil yang mereka terima beragam. Jadi kita tak perlu memperumit  perbedaan tersebut dengan saling menaruh klaim “keliru” terhadap mereka yang tidak sependapat dengan mazhab yang kita ikuti. Sebab, sekalipun kita harus menganggap bahwa pendapat kitalah yang paling benar, tetapi kita tetap tidak diperkenankan untuk menyalahkan pihak lain, karena yang lain juga memiliki kans untuk benar.

Kembali pada permasalahan hukum membaca basmalah dalam salat. Jawaban para Imam mazhab mengenai masalah ini tentunya juga dilandasi oleh jawaban mereka akan masalah sebelum ini. Jadi kalian perlu scroll. Langsung saja kita mulai dari pendapatnya mazhab Maliki yang menyatakan, bahwa basmalah dalam al-Fatihah tidak diperkenankan untuk dibaca, baik salat sirriyah ataupun jahriyyah, karena ia bukan bagian dari Fatihah. Kendati demikian, basmalah masih diperbolehkan dibaca pada salat sunah menurut mereka.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi, hukum membaca basmalah, baik saat bersamaan dengan Fatihah atau surat lain, adalah hasan/sunah. Namun, harus dibaca secara sirri, pelan-pelan. Pendapat beliau sama dengan yang diutarakan oleh mazhab Hanbali yang menyatakan bahwa basmalah sunah dibaca namun secara sirri saja.

Baca: Mengenal Karya Mama Sempur Idhahul-Karathaniyyah: Tentang Kesesatan Wahabi

Pendapat terakhir adalah pendapat yang disampaikan Imam Syafii. Beliau berkomentar, bahwa membaca basmalah pada permulaan Fatihah dalam salat hukumnya wajib, karena ia termasuk bagian ayatnya. Dan dibaca secara jahr, keras, ketika salat jahriyyah (salat yang bacaannya keras; subuh, maghrib, isya) dan secara sirri, pelan, dalam salat sirriyah (salat yang bacaannya pelan; dhuhur, ashar).

Pemaparan diatas saya kira cukup jelas untuk memahami sebuah hukum yang dimunculkan dari surat Al-Fatihah, khususnya pada ayat pertama, bagi kita mazhab syafii yang menganggapnya bagian dari Fatihah.

Sikap para ulama dalam meng-ijtihad-i sebuah masalah tentu berbeda-beda dan semuanya memiliki kemungkinan benar. Karena mereka masih dalam taraf menduga-duga (dzhan) terhadap sebuah dalil. Yang bisa kita lakukan sebagai muqallid (pengikut) seorang imam mazhab hanyalah mengikutinya dengan tetap tidak menyalahkan mazhab di luar kita.

Oleh: Ahmad Miftahul Janah

Dipost ulang dari alif.id

Picture by amazon.com

Santri Dan Polisi

Seorang santri ditugaskan oleh Kyainya untuk menjemputnya di Desa sebelah yang sedang melakukan pengajian rutin. Sudah menjadi hal lumrah bahwa di daerah pedesaan tak ada polisi, jadi santri itu tidak memakai helm untuk menjemput Pak Kyai.

Motor pun berangkat menuju tempat Sang Kyai berada, ditengah perjalanan ada beberapa motor yang berhenti. Santri itu mendekatinya dan ternyata itu adalah operasi dari polisi, santri tadi tidak bisa kembali karena sudah terlanjur tertangkap.

Polisi: Mana helm mu?

Santri: Eee, gak bawa pak.

Polisi: Kenapa gak bawa?

Santri: Kan biasanya gak ada polisi disini pak.

Polisi: Tunjukkan STNK mu!

Santri: Luu, lupa kebawa pak.

Polisi: Oh begitu, Kamu saya tilang!

Santri: Tapi pak, ini motor Kyai saya pak (dengan wajah memelas).

Mendengar kata Kyai dan melihat bocah sarungan itu, polisi berfikir bahwa itu adalah santri dari Pak Kyai.

Baca: Pandangan Medis Tentang Air

Polisi: Oke, kamu tidak saya tilang, tapi berdamai.

Santri: Saya gak punya uang banyak pak.

Polisi: Lalu, berapa yang kamu punya?

Santri: 30 Ribu pak.

Polisi: Kalau begitu belikan rokok Dji Samsu 1 bungkus di toko itu (sambil menunjukkan sebuah toko).

Santri: Beneran pak? tanya sang santri

Polisi: Iya, buruan sebelum berubah pikiran.

Santri mulai melangkahkan kakinya  ke toko yang di tunjukkan oleh pak polisi, namun siapa sangka, santri tersebut sedang mengakali pak polisi.

Santri: Buuu…beli rokok.

Penjual: Rokok apa nduk?

Santri: Dji samsu 3 bungkus bu.

Penjual lalu mengambilkan rokok yang diinginkan oleh sang santri.

Penjual: Ini nduk.

Santri: Uangnya di pak polisi itu ya bu (sambil menunjukkan pak polisi).

Penjual: Yang bener nduk?

Awalnya penjual ragu apa yang di ucapkan oleh sang santri.

Santri: Paaaaak…(berteriak), rokok ini kan? 

Pak polisi mengangkat jempolnya pertanda setuju.

Penjual: Oh, iya nduk, kebetulan bapak itu sering ngopi disini.

Akhirnya penjual itu percaya ucapan santri tadi.

Santri: Ini pak rokoknya (menyerahkan rokok).

Polisi: Kok banyak bener, tadi kan saya minta 1 bungkus

(polisi terheran-heran).

Santri: Iya pak, saya ingat tadi ada uang yang keselip di kantong,  jadi bisa nambahin, ndak papa pak itu buat samean.

Polisi: Oh iya, makasih.

Polisi bahagia melihat rokok yang begitu banyak itu.

Santri itu akhirnya diizinkan untuk pergi, dalam hatinya santri bahagia penuh kemenangan, sekali-kali jahilin orang kan ndak papa ya, begitu pikir santri. Setelah selesai dalam tugasnya, pak polisi itu berdiam sejenak melepas lelah dan memesan kopi di toko tadi.

Baca: Antara WC dan Semedi

Tiba saatnya melakukan pembayaran.

Polisi: Berapa semuanya bu?

Penjual: 60 ribu

Polisi: Haaaaah? Apa saya tidak salah dengar, saya hanya mesan kopi saja bu.

Penjual: Loh, tadi kan kamu juga beli rokok.

Polisi: Rokok yang mana?

Penjual: Itu (sambil menunjuk ke arah rokok 3 pak itu).

Polisi: Sialan tuh anak, awas ketemu lagi.

Itulah kisah lucu santri ditilang polisi, kisah ini hanya sebagai hiburan belaka, tak ada maksud untuk menjelekkan kedua belah pihak, dan perlu di ingat adegan di atas jangan di tiru.

Oleh: Tim Redaksi

Sumber: bincangsantri.blogspot.com

Picture by walpaperlist.com

Pandangan Medis Tentang Air

Salah satu referensi tentang ilmu kesehatan Islam, disebutkan bahwa air memiliki suhu panas yang tidak ideal bagi bersarang dan berkembang biaknya kuman-kuman penyebab penyakit. Sebaliknya, air menghalangi perkembangannya, bahkan merusak dan membunuh kuman-kuman tersebut.

Air memiliki unsur yang disebut specific heat (panas khusus) dan latent heat (panas tersembunyi). Unsur pertama membuat air dapat dibuat ukuran panas. Dalam temperatur yang sama, air dapat menyalurkan panas 30 kali lebih besar dari pada merkuri (air raksa) dalam kuantitas yang sama (masing-masing sekitar ½ kg) dengan kenaikan temperatur yang sama kurang lebih 1̊ C. Sebaliknya, air dingin dapat menyerap panas dari tubuh sebanyak 30 kali lebih besar dibanding dengan merkuri dalam temperatur dan kualitas yang sama. Oleh karena itu, air dingin sangat cepat mendinginkan kulit, mendinginkan otot, dan melancarkan peredaran darah.

Unsur kedua latent heat (panas tersembunyi) akan bertambah ketika air direbus. Walaupun air itu menjadi es, latent heat ini tetap ada didalamnya. Sehingga, walaupun temperatur air itu tidak berubah, es itu tetap meleleh juga. Ini sangat menolong menurunkan temperatur atau suhu badan kalau dikompres dengan es. Karena, dengan melelehnya es dan menguapnya air, itu akan menyerap panas dalam tubuh.

Baca: Antara WC dan Semedi

Studi ilmiah mengungkapkan bahwa tetesan air yang jatuh ke kepala dan wajah dapat menghilangkan rasa pusing dan kegelisahan jiwa. Karena itu, para dokter menyarankan agar orang yang terkena insomnia (sulit tidur) agar mandi dengan air hangat. Para ahli meyakini bahwa air memiliki kekuatan magis karena pangaruhnya terhadap otot, syaraf, dan suasana kejiwaan seseorang. Oleh karena itu, banyak orang yang senang bernyanyi ketika mandi karena pada saat itu dia merasa santai, rileks, dan bahagia.

Seorang ahli, Izzenberg, melakukan penelitian ilmiah yang menghasilkan kesimpulan bahwa tetesan air yang jatuh ke wajah dan bagian tubuh lainnya sudah mencukupi dan tidak memerlukan alat lain untuk melancarkan sirkulasi darah dan memijit-mijit otot. Apa yang dikatakan Izzenberg ini bisa menjadi landasan kuat bahwa mandi maupun wudlu dengan air bersih dapat menghilangkan rasa marah, tersinggung, dan rasa gelisah yang menimpa seseorang.

Hal ini menjadi pembenaran ilmiah bagi hadis yang memerintahkan wudlu ketika sedang marah. Nabi Muhammad bersabda:

Sesungguhnya, marah itu dari setan. Dan sesungguhnya, ia tercipta dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan dengan air. Maka, jika kalian marah berwudlulah.” (H.R. Abu Dawud No. 4.786)

Dewasa ini, air juga dimanfaatkan untuk terapi pengobatan (hidroterapi). Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa air sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia, baik untuk tubuh bagian dalam ataupun bagian luar. Miller menyebutkan bahwa sentuhan air pada kulit memberikan rangsangan pada titik-titik refleksi dan akupuntur yang dapat menimbulkan efek layaknya pemijatan.

Oleh karena itu, dalam melakukan terapi air, dapat digunakan air panas maupun dingin, tergantung waktu dan kondisi tubuh. Untuk manusia normal, waktu pagi dan siang hari, melakukan hidroterapi dengan air dingin lebih memberikan manfaat. Sedang, untuk malam hari atau orang yang kurus, sebaiknya menggunakan air panas. Hidroterapi semacam ini bila dilakukan dua atau tiga kali sehari akan berfaedah untuk menjaga kesehatan tubuh kita.

Baca: Opini Tentang Perempuan

Di antara faedah yang mungkin diperoleh lagi adalah lancarnya aliran darah tubuh manusia. Kelancaran aliran darah akan memperbaiki nafsu makan, mendatangkan perasaan bugar dan sehat, yang sangat berguna bagi badan kita untuk melawan penyakit. Ternyata membasuh badan dengan berwudlu memiliki dampak yang luar biasa terutama bagi kesehatan baik jasmani maupun rohani, lantas nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Oleh: Opik Taopikurrohman

Sumber: Dikutip dari Kearifan Syariat

Picture by kabarnusa.com

Antara WC dan Semedi

Frasa ‘mau ke belakang’ dan frasa ‘mau buang hajat’ adalah frasa yang dinilai sopan untuk mengatakan ‘mau bab’. Tidak tahu secara pasti mengapa kata ‘belakang’ bisa merepresentasikan maksud hati pergi ke WC, selain dugaan sementara bahwa itu karena jalan keluar air besar berada di belakang.

Hajat ditafsirkan oleh KBBI sebagai: 1) maksud, keinginan, kehendak; 2) kebutuhan atau keperluan; 3) selamatan; dan 4) kotoran atau tinja. Artinya, ‘kotoran’ atau ‘tinja’ sebagai arti kata hajat adalah opsi makna terakhir. Dengan kata lain, kata tersebut jarang digunakan. Karena aslinya dari bahasa Arab, kata hajat (al-hajah) yang diasalkan kepada kata al-hawju berarti as-salamah (keselamatan). Oleh orang Jawa dirumuskan dalam kegiatan selametan yang seringkali di Indonesiakan dengan ‘hajatan’. Sama dengan arti ketiga kata hajat dalam KBBI di atas. Korelasi keduanya jelas, orientasi buang hajat dan selametan satu: selamat dalam hidup.

Selamat dalam hidup? Ya. Mengeluarkan kotoran berarti mengeluarkan penyakit dan meraih keselamatan; dan orientasi orang tua membuat selametan untuk anaknya ialah berharap keselamatan untuk anaknya. Pemaknaan ini dilihat dari aspek leksikal. Sedangkan dari aspek pemakaian kata, kata hajat menurut dua literatur Arab. Pertama, dalam kitab Fath al-Qarib al-Mujib fi Syarh Alfadz at-Taqrib karya Muhammad ibn Qasim al-Ghazziy. Kedua, dalam kitab al-Hikam karya Ahmad ibn Muhammad ibn Abdul Karim ibn ‘Atha’illah as-Sakandariy, kumpulan kata-kata mutiara sugistik yang dikomentari oleh ibn ‘Ibad an-Nafaziy ar-Ranadiy.

Baca: Uchiha Itachi Terinspirasi Dari Kitab Ulama Abad Ke-16

Fiqih-secara sederhana dapat kita sebut sebagai serangkaian tata cara mengatur jasmani kita, sedangkan Tasawwuf juga secara sederhana dapat kita kategorikan sebagai serangkaian tata cara menata rohani kita. Jika kita memahami orientasi masing-masing dari dua disiplin ini, kita dapat menghindar dari persepsi umum yang menyatakan dua ilmu yang bersebrangan. Kata hajat dalam literatur pertama digunakan untuk merepsentasikan makna ‘bab’, dan dalam literatur kedua digunakan untuk mewakili makna ‘hakikat kehambaan’. Hal ini mengindikasikan bahwa bab dan hakikat kehambaan bersatu dalam dua sudut pandang yang berbeda.

Dalam literatur pertama disebutkan “demi tata krama, seorang qadli al-hajjat dianjur menghindari kencing dan bab di air diam dan dibawah pohon berbuah.” Di sini kata hajat merangkum dua kebutuhan esensial; kebutuhan untuk kencing dan kebutuhan untuk bab. Ya, kencing dan bab dengan segala sistemnya. Sementara itu dalam literatur kedua disebutkan “janganlah engkau adukan kepada selain Nya suatu hajat yang mana dialah pembuatnya untukmu. Sebab bagaimana mungkin selain Nya akan menuntaskan suatu hajat yang Dia sendirilah peletaknya?! Siapapun yang tiada mampu menuntaskan hajatnya sendiri, maka bagaimana mungkin ia akan menuntaskan hajat (orang) lain?!”

Ketika hajat datang kepada kita, di manakah tempat yang tepat untuk kita mengadu? Kalau hajat itu berupa kencing dan bab jelas kita akan pilih wc kalau ada tempat yang sepi atau kita anggap sepi dimana hanya aku dan hajat ku. Dahulu tempat semacam itu di Arab disebut al-Khala secara leksikal al-khala berarti tempat sepi. Jika hajat itu bersifat rohani kita punya tempat bernama al-khalwat yangs ering dipahami sebagai tempat aktifitas menyendiri tempat dimana hanya ada aku dan hajat ku. Di perbendaharaan Jawa kita punya semedi suatu aktifitas kontemplatif yang melibatkan hati, pikiran dan integritas keduanya guna menuntaskan hajat. Dalam aktifitas ini kita dipanggil Allah dengan qadliyal hajat, seperti halnya literatur pertama memanggil orang yang hendak bab dan atau kencing dengan qadli hajah.

Percaya atau tidak kata al-khala’ dan al-khalwat ternyata satu akar kata, sama-sama berasal dari huruf Kha’-lam-wawu. Wc (al-khala’) dan semedi (al-khalwat) terhubung secara morfologis. Mungkin ini kebetulan saja, tapi suatu kebetulan adalah bahasa lain keterbatasan wawasan dan pengetahuan teknologi manusia. Dan yang mengherankan ialah bahwa penghubung paling elementer dua hal itu adalah hajat. Ia menghubungkan secara tak kasat mata wilayah yang begitu jorok dengan wilayah yang begitu indah. Maka tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa hajat merupakan jaringan tanpa kabel tercanggih yang dapat menghubungkan yang najis dan yang suci.

Baca: Opini Tentang Perempuan

Dari hajat lahir al-khala’, al-khalwat dan baru kemudian agama. Setiap orang punya hajat nya masing-masing, hanya saja yang perlu dipertimbangkan ialah dimana ia akan menuntaskannya. Sebab wc dan semedi berbeda secara operasional namun sama secara substansial yaitu wc tempat buangan kotoran jasmani sementara semedi tempat buangan kotoran rohani.

Oleh: Tim Redaksi

Sumber: Buku Islam Musiman

Picture by i.ytimg.com

Jer Besuki Mawa Beya

“Gus ada ungkapan seperti ini ‘ad astra per aspera’– hanya dengan jerih payah kita bisa mencapai ke bintang, komentar kamu gimana gus?” ucap Supri

“Kamu sok-sokan pamer istilah latin Pri, supaya dikira pintar gitu?” jawab Agus

“Haha…lupakan saja mudos yang saya miliki gus, terangkan saja istilah tadi, bantu saya memahaminya” pinta Supri

“Pasti kalimat itu dipakai dalam konteks terbatas, kalau pakai logika keilmuan itu dusta dan sia-sia. Mau ngapain kita ke bintang? Bintang yang kita tahu seperti matahari, panas. Bagaimana kita bisa mencapainya? Mendekatinya saja bisa terbakar habis.” Jawab Agus

“Tapi kok banyak kalimat yang sejenis gus?” tanya Supri

“Karena kalimat itu memang sengaja digunakan untuk menipu diri supaya menjadi energi, maka tidak ada salahnya kita berbohong sedikit. Dalam bahasa jawanya kalimat ini menjadi ‘obah mamah ubet ngliwet- no pain no gain- no woman- kapokmu kapan!’ Ada juga dalam ungkapan lain, simbah-simbah tua jaman dulu sering bilang ‘jer besuki mawa beya’ keberhasilan, kesejateraan dan kesuksesan tidak mungkin akan terwujud tanpa adanya pengorbanan. Tentang usaha kita tidak ada perdebatan, pasti dari dulu ya begitu itu. Kecewa, sulit, berkeringat, berdarah, melelahkan, hancur, remuk-redam, bangkit lagi, hajar lagi, jalan lagi, jatuh lagi, berproses lagi. Tapi tentang keberhasilan? Tentang bintang? Tantang kemenangan?” jawab Agus

Baca: Uchiha Itachi Terinspirasi Dari Kitab Ulama Abad Ke-16

“Kenapa memangnya Gus?” tanya Supri

“Kita selama ini hanya memakai satu kacamata kuda dalam memandang hal ini. Bagi kita kalau miskin berarti tidak berhasil, kalau bodoh tidak suskses, kalau tidak terkenal berarti bukan bintang. Ealah dalah… kok yo mesake tenan cara berpikir koyo ngene ini. Sudah jatuh mati pula.” Jawab Agus

“Berarti bisa dong kemenangan muncul dalam bentuk kekalahan?” lanjut Supri

“Kenapa tidak? Kemenangan bisa saja muncul dari kekalahan, kesuksesan bisa kita peroleh dari kebangkrutan, kehidupan dari kematian, kesenangan dari kepahitan, kelapangan dari kesempitan. Walau saya yakin ini sulit dan tak mudah dilakuakan, tapi paling tidak kita tahu cara berpikir yang model seperti ini, wes lumayan Pri.” Jawab Agus

Oleh: Taufik Ilham

Picture by upload.wikimedia.org

Kisah Humor: Juki Yang Cerdik

Juki adalah anak yang cukup cerdas dan bertanggung jawab meski baru berusia lima tahun dan masih duduk di bangku TK. Suatu hari Juki disuruh pergi belanja, seperti biasa ibunya selalu memberi uang pas setiap kali menyuruhnya belanja. Maka sambil menggenggam uang receh, Juki berlari-lari kecil ke warung terdekat.

“Tumbas…gulo sekilo” teriak Supri depan warung

“Oalah, Juki toh!” jawab Ibu penjaga warung

Namun oleh Ibu penjaga warung, gula tersebut bukannya diberikan langsung malah dibuka kembali dan isinya dikurangi dengan jumlah yang cukup lumayan.

Baca: Opini Tentang Perempuan

“Iki Juk gulone” Ibu penjaga warung memberikan gulanya

“Tapi Bu, kok timbangane dikurangi?” protes Juki spontan sambil menerima gulanya

“Yo, ben awakmu gampang leh nggowo”

Juki pun dengan cepat menyisihkan beberapa lembar uang recehnya.

“Niki Bu artone” kata Juki seraya menaruh uang pembayaran di atas toples

“Loh, tapi kok duite mbok kurangi Juk?” tanya Ibu penjaga warung

“Yo ben gampang leh ngitung Bu” jawab Juki enteng

Mendengar ini si ibu cuma bisa tersenyum kecut

“Hmm…cah iki podo wae karo mbokne!” jawab Ibu penjaga warung kesal

Oleh: Tim Redaksi

Picture by i.ytimg.com

Opini Tentang Perempuan

Dalam sejarah dunia tercatat bahwa semasa terjadi perang salib pemikiran barat adalah yang paling dikenal. Akan tetapi kekuatan pemikiran barat ini di timur tengah justru banyak yang diadaptasi dari pemikiran Islam. Di tengah lautan pertarungan pemikiran ini juga berpengaruh di Indonesia, buktinya di era pra-milinium abad ke-21 saat ini telah lahir  pemikir-pemikir handal, dengan teori dan temuan yang tidak diragukan lagi. Produk pemikiran yang dihasilkan seperti  kemajuan teknologi dan teori-teori  ilmiah, diantaranya: teori gravitasi, teori ekonomi, teori kesenjangan sosial, teori psikologi dan sebagainya. Melihat fenomena keilmuan ini penulis mencontoh para pemikir, dengan mencoba mempertanyakan kembali teori “psikologi perempuan” dari sudut pandang objektifitas sosial. Dan hasilnya adalah sebagai berikut :

  1. Perempuan mempunyai otak lebih kecil dari pada laki-laki. Penjelasannya yaitu bahwa perempuan lebih cenderung mengedepankan perasaan dari pada logikanya untuk mencari solusi masalah yang tengah di hadapi. Faktanya  perempuan  lebih lama memendam tekanan dan lebih cenderung terkena depresi. Itu dapat dilihat pada wanita usia remaja dan dewasa, yang sedang tumbuh mencari pasangan (puber).
  2. Perempuan lebih cenderung menjawab “ya” dari pada “tidak”. Hal ini karena kebiasaan perempuan yang lebih mengedepankan perasaan dari pada pemikirannya. Contohnya sering kita jumpai adalah apabila seorang perempuan dilamar oleh seorang pria, perempuan akan terdiam dan mengalami kegalauan  untuk memberikan jawaban.

Baca: Amalan Satus Tembus

Dalam kasus seperti ini, setidaknya ada tiga jawaban yang akan di berikan dengan makna dan tujuan yang bervariasi :

  1. Menolak, dalam hal ini perempuan sebenarnya tidak sungguh-sungguh menolak karena telah dijelaskan diatas perempuan lebih mengedepankan perasaan dari pada logika, jadi jawabannya mau atau menerima. Tetapi dengan catatan durasi waktu yang masih mengambang.
  2. Teridiam, jawaban kategori ini, seorang perempuan enggan melontarkan kata-kata atau kalimat dikarenakan mempunyai dua maksud lain, yang pertama: alasanya karena perempuan malu akan menjawab walaupun sebenarnya  perempuan tersebut suka. Dan yang kedua: perempuan terdiam karena dia enggan disebut perempuan gampangan.
  3. “Ya”, saat perempuan memberikan jawaban yang terakhir ini karena perempuan  sudah menunggu dengan perasaan yang sudah tidak dibendung lagi bahwa dia suka dengan perempuan tersebut.

Itulah analisis yang penulis lakukan dengan mencoba melihat fenomena sosial perempuan usia remaja atau dewasa tanggung. Ketidaksepahaman dalam pemikiran ini mungkin akan  menimbulkan pro dan kontra oleh sebab itu  harapan penulis  wacana ini dapat menjadi khazanah keilmuan yang kita kritisi kembali.

Oleh: Tim Redaksi

Sumber: El Tasrih Komplek L

Picture by static.mediajurnal.com